Akankah Internet Membunuh Televisi?

internet-marketing

Apakah akhir akhir ini Anda khawatir pada acara TV yang cenderung seragam dan tidak lagi menarik untuk selera “dewasa” Anda? Tidak ada kualitas dalam program program yang disajikannya? Ya, di Indonesia? So..

Mestinya Anda lebih khawatir pada pertanyaan mengapa terjadi demikian? Terutama Anda yang bergerak di wilayah iklan internet. Karena sejauh apa yang ditampilkan di media layar kaca, entah dalam bentuk tabung kaca kuno era 50-an, atau kaca plastis LCD-LED 20 – 50 inchi yang menayangkan semata acara “kosong daya tarik”, berulang-ulang, hilang kreatifitas. Bagi penulis ini adalah pertanda bahwa TV tengah beradaptasi.

Televisi di Tengah Gempuran Internet

Kita memang sama sama mengetahui, bahwa audiens dewasa lebih memilih melihat segala penyiaran dalam layar 3 sampai 5 inchi, di ponsel. Dan saya tidak bicara tentang youtube atau media streaming penyajian konten video, tidak. Tapi keseluruhan konten.

Lalu, apakah kita menjadi penyaksi berakhirnya rezim TV setelah berkuasa hampir 60 tahun? Karena Internet tidak hanya menyerang beberapa pakem industri, tapi juga menyedot mereka untuk beradaptasi pada bisnis baru. Para musisi dan industri musik telah menyesuaikan diri, media cetak ikut menyesuaikan diri agar tidak dihabisi. Sayangnya TV tradisional belum, para broadcaster layar kaca masih perkasa di posisinya.

Mengambil Contoh dari Industri Musik

Ambil contoh, antara tahun 1999 dan 2009, pendapatan tahunan di industri musik menurun dari $ 14,6 menjadi $ 6,3 miliar, didasarkan data dari perusahaan analisis pasar Forrester Research. Bisnis musik diserang oleh sharing online ilegal di Napster.

Maka industri melakukan penyesuaian, berkerjasama dengan industri web content, piranti, dsb, di antaranya muncul produk iTunes Apple yang memberi kemudahan segmen “shop” penjualan musik secara download. Muncul pula layanan seperti Spotify dan Pandora, akan halnya semua terlambat, industri musik tidak bisa meraih kejayaan dan kekayaan mereka seperti era 1970-an.

Adaptasi Media Kabar ke Media Online

Media surat kabar mengikuti pola yang sama. Dari 2006 hingga 2012, pendapatan turun dari $ 49,3 miliar menjadi $ 22,3 miliar, didasarkan angka asosiasi perdagangan AS. Yang lenyap adalah belanja iklan.

Para pengiklan lebih menyukai membaca iklan baris di Craigslist, merusak bisnis miliaran dolar surat kabar cetak. Dari segi pemberitaan aktual, Google ikut menjadi pembunuh surat kabar dengan kemampuan indeks berita online yang ikut melemahkan sirkulasi cetak.

Apakah Televisi Akan Habis Digempur Dunia Digital?

Akan tetapi TV malah tetap perkasa. Walau ada gangguan pada beberapa industri media, yang pada akhirnya membawa pertanyaan tentang kapan bisnis televisi akan menghadapi gilirannya masuk meja bedah bisnis online. Tetapi meskipun rentan, dan ditinggalkan khalayak aktif, masih ada khalayak pasif yang belum mampu merubah kecenderungan bermedia terutama anak anak dan remaja, serta mereka yang berusia lanjut, masih enggan mengupdate pilihan media.

Khalayak tradisional enggan mengubah pola konsumsi. Hasilnya? Berdasarkan riset SNL Kagan, pendapatan konglomerasi TV di AS naik dari $ 36 miliar pada tahun 2000 menjadi $ 93 miliar pada tahun 2010. Indonesia pun penulis pikir masih berbagi data serupa. Setelah kita mendengar kabar Harian Pelita, koran sore mengalami kebangkrutan, bisnis TV nasional seperti MNC TV, Kompas, Metro, Trans Corp makin menggurita.

Namun, ini merupakan fakta sementara. Karena penetrasi pemakaian internet, dan internet yang masih relatif mahal menjadi bagian dari penyebab TV masih berjaya terhadap internet, dan dalam hal ini di Indonesia. Walau demikian, tanda-tanda orang mulai familiar menggantikan TV untuk menonton konten streaming, atau menghabiskan waktu berjam-jam di sosial media adalah penanda awal dari pergeseran kue iklan.

Dan orang orang TV sendiri bukan tidak sadar. Pebisnis televisi juga menyadari posisi mereka rentan pada nasib pahit media lainnya. Sebagaimana tertulis dalam buku Michael Wolff, “Televisi Menjadi Gerakan Televisi Baru”. Sudah 60 tahun televisi bertahan pada pergeseran generasi, beradaptasi pada perilaku, dan penciptaan teknologi penting, “Yang berhasil mengubah segalanya … namun tidak mengubah Televisi begitu banyak,” tulisnya.

Karena Wolff, meyakini bahwa orang orang industri TV bisa ciptakan generasi “setia TV” baru dengan lebih banyak tayangan pada anak-anak. Para produser TV meyakini bahwa medianya adalah media setia untuk anak-anak –karena menjadi media yang diperbolehkan oleh orang tua untuk tidak diganggung sang anak (ironisnya orang tua yang sibuk dengan gagdetnya sendiri dan tenggelam di dunia online).

Ironisme ini menunjukkan kekurangan pihak online untuk memupuk generasi audiens yang setia dari sejak anak-anak, karena terlalu melihat keuntungan langsung dari booming internet marketing di pasar. Padahal, audiens terbaik adalah mereka yang belajar mengenai brand sejak kecil, dan mereka adalah anak-anak, serta remaja tidak matang. Dan bagi kami, ini adalah awal anjuran kepada Anda untuk menyiapkan konten khusus anak, dan mulai pupuk audiens Anda sendiri sejak kecilnya, seperti orang orang TV.

Ya, seperti orang orang TV. Mereka tahu diserang bisnisnya oleh masifnya internet, tetapi secara heroik mereka bertahan dan tahu pasar mana yang mesti dibidik.

top