Di 2013, Artikel Ini Menjadi Viral di Dunia Online

Viral Marketing Internet

Setiap orang sudah ditakdirkan tidak sama dan setara. Walau demikian intitusi sosial tidak akan peduli terhadap perbedaan, dan akan selalu menuntut manusia untuk seragam. Cara manusia menyikapi penyeragaman itu selalu sama, yakni menyerah, dan jika tidak ada yang mau menyerah? Maka orang itu siap menjadi viral.

Inilah rumus tidak sengaja dari Seth Adam Smith, saat menelurkan artikel “Pernikahan bukan untuk semua orang”. Artikel yang dipublikasikan sejak 2 November 2013 di blog pribadi sethadamsmith.com ini benar benar nuklir 24 karat. Artikelnya menerima share sebanyak 1,8 juta di Facebook, tampil di BuzzFeed, The Huffington Post, The Today SHOW, MailOnline, MSN.com, Yahoo.com, Cosmopolitan, The Matt Walsh Blog hingga Fox & Friends.

Seth Adam jadi selebritis dunia maya dalam satu artikel saja. Dan itu tanpa perlu datang ke dukun, meminta agar Dewa Viral mau baik hati menggilirkan ketenaran online padanya. Terlebih di negara kita, Dewa Viral termasuk tipe dewa yang norak, bagaimana tidak Lipsing Sinta dan Jojo bisa terkenal, tetapi permainan piano Joey Alexander di Youtube yang mengantarkannya ke panggung Grammy Award tidak sebanyak keduanya!!!?

Dari tulisan tersebut bahkan Seth Adam bisa tampil di televisi nasional ikut bikin buku yang laris manis, buku tersebut lebih laku dibandingkan buku Jonru, walau Jonru misalnya 100 kali lebih banyak membuat viral post di Indonesia. Ini hanya semata akibat dari popularitas satu artikel saja.

Apa lalu yang ditawarkan artikel dari Seth Adam tersebut, sampai sampai bisa teramat sakti? Pada dasarnya artikel itu bicara tentang bagaimana masyarakat Barat memandang pernikahan sebagai bentuk keterbelakangan yang menghambat potensi kemanusiaan, padahal masalah utamanya adalah keengganan masyarakat untuk tidak egois, dan membuat pernikahan berjalan lebih baik. Akan halnya Seth menentang pemikiran yang lama mengendap di masyarakat dan membuat semacam penegasan, bahwa sebagian orang Barat mestinya pilih pilih, tinggalkan pernikahan karena pernikahan bukan untuk mereka.

Dengan teknik cerita yang baik, Seth mampu membangkitkan rasa penasaran, dan memberikan kejutan. Seth bisa membuat orang orang yang paling nyinyir berdatangan, lalu membuat komentar sinis, komentar menyerang, dan mulai menanggapi dengan pemikiran versinya sendiri. Tanggapan demi tanggapan itu lantas menjadi wacana online yang berkesinambungan, sampai akhirnya Dewa Viral Barat menyerah dan membuka kemungkinan tulisan Seth untuk mendapatkan approval untuk viral.

Apa saja ciri-cirinya?

1. Sebagaimana halnya Jonru, artikel Seth membuat adanya segregasi kelompok pembaca. Ada yang mendukung, dan ada yang menolak.

2. Tapi berbeda dengan Jonru, tema yang diangkat Seth tidak terlalu kontroversial (itu poin penting), dan Seth tidak mengintil-intil tokoh publik terkenal agar tulisannya bisa di baca banyak orang dalam aksentuasi semata keberadaan pendukung dan penolak sang tokoh.

3. Kontruksi viral Seth ini terbukti bisa diterapkan di Indonesia dan pernah sukses besar melalui penulisan viral seperti yang dipublikasikan oleh Erizeli Eri Bandaro, atau Hassanudin Abdurahman di Facebook, penulis terakhir bahkan berkesempatan diundang memiliki kolom tersendiri di Kompas Online.

4. Dalam kontruksi viral dari Seth, meskipun judul provokatif, pesan yang dibawa pulang pembacanya adalah ajakan untuk berpikir ulang tanpa merasa diserang berlebihan.

Bahwa “Pernikahan semuanya bukan tentang Anda saja, tapi ini tentang ikhlas memberikan diri Anda kepada orang lain.” Dan jelas baris tersebut bertindak sebagai motivator yang kuat kepada situasi sosial yang dihadapi orang banyak. Berbagi postingan ini, membawa kesan pada pembaginya dia telah “beramal” pada setiap pasangan menikah agar mereka sanggup mempertahankan pernikahannya.

5. Membagi posting Seth secara positif diartikan sebagai hadiah pada mereka yang menikah untuk bahagia. Dan ledekan pada mereka yang menyia-nyiakan pernikahan.

6. Masyarakat Barat yang egois tentu saja tersundut pada artikel tersebut, sebagian mereka akan bertahan dengan opininya, sebagian yang lain mengalap berkah dari inspirasi yang ada, kontroversi ini akan berlanjut terus, artinya artikel ini menjadi trademark, penanda yang akan dibawa-bawa hingga puluhan tahun mendatang. Sampai kapan? Sampai pernikahan musnah.

Dari rumus di atas mestinya Anda sudah bisa menakar sejauh mana artikel bisa menjadi viral, walau di Indonesia selalu ada faktor “i2” yang tidak bisa di abaikan. Faktor apa itu? Faktor “i2” faktor “ini Indonesia” terkadang Anda telah merasa mirip-mirip yakin artikel Anda bisa viral, tapi masih juga sulit dipasarkan, itu lebih ke mood.

Mood masyarakat Indonesia memang mudah berubah, walau demikian preferensi sosial mereka tetaplah sama.

Tags

top